Berbuat Baiklah Ke Semua Orang, Sekecil Apa Pun

RINI ANDRIANI
PAI PAGI
SEMESTER 3
0101.22.0007
TUGAS MATKUL: ILMU KOMUNIKASI

      
            BERBUAT BAIKLAN KEPADA                   SEMUA ORANG, SEKACIL APAPUN

    Kita sering mendengar ungkapan “sedikit-sedikit, nanti jadi bukit”. Hal-hal besar tidak selalu lahir dari pekerjaan besar. Hal besar juga bisa lahir dari hal-hal kecil atau terlihat sepele, tapi cepat atau lembat nya akan menjadi besar. memang, kita sering hanya melihat segala sesuatu dari “hasil”, tapi kita melupakan bahwa yang besar bisa saja lahir dari “proses” penumpukan yang kecil-kecil atau dianggap sepele atau dianggap tidak penting akan menjadi tumpukan pasir yang dulunya hanya butir-butir kecil bisa menjadi gunung pasir, atau bahkan padang pasir luas.

Hal itu juga berlaku dalam kehidupan kita. Kita sering menyepelekan hal-hal kecil, padahal hal yang kecil itu bernilai, bahkan jika berakumulasi, hal-hal itu menjadi besar. Sadarkah kita bahwa segelas air putih akan tampak tidak berarti jika disandingkan dengan minuman mewah lain, tapi air putih bisa jadi sangat berarti bagi seseorang yang sangat kehausan di tengah terik matahari.

Perbuatan baik yang kecil sering kita anggap tidak bernilai. Membuang duri dari tengah jalan menjadi tampak sepele, tapi jika tidak disingkirkan, akan ada orang yang terluka. Jika perbuatan baik yang tampak sepele sering dilakukan, ia akan menjadi tumpukan kebaikan yang besar. Sebaliknya, misalnya, mengunjing orang mungkin bagi kebanyakan kita dianggap sepele, tapi perbuatan kecil itu akan berdampak negatif secara luas. Bayangkan saja, betapa banyak kepanikan sosial, isu-isu, desas-desus, stigma, pembentukan opini, bahkan yang meski faktual, tapi termasuk penggunjingan, akan berdampak besar, dan sistemik di masyarakat. Tak hanya perbuatan baik yang kecil, melainkan perbuatan jahat yang juga jika rutin dilakukan, akan berdampak besar. Tidak ada dosa besar, melainkan dosa-dosa kecil yang selalu dilakukan, demikian dikatakan dalam ajaran.

Dalam al-Qura'an disebutkan yaitu dalam surah al-zalzalah ayat 7-8 yang berbunyi:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿ ٧
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴿ ٨

7.Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

8.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Nah, jika suatu perbuatan baik tampak dari kuantitas tidak banyak, namun sudah dilakukan semaksimal kemapuan dan dengan totalitas ketaatan kepada perintahnya, maka perbuatan sekecil itu pun tetap bermakna. Seorang yang miskin mungkin harus merogoh saku lebih dalam jika ia bersedekah dengan seratus ribu rupiah, karena pendapatannya tidak banyak. Jika ia bersedekah dengan lima puluh ribu, jumlah itu barangkali masih dianggapnya besar, dan sudah berlaku adil antara hak sosial dan hak pribadinya (kepentingan diri sedniri, anak, dan istrinya). Berbeda dengan hal itu, seorang milyarder mungkin tidak akan susah jika ia berbsedekah dengan seratus ribu, karena hartanya melimpah dan pendapatannya banyak.

Oleh karena itu, kebernilaian suatu perbuatan baik tidak bisa semata hanya dilihat dari kuantitas, melainkan dari kualitas berupa totalitas pengorbanan yang dilakukan. Begitu juga, berbuat baik kepada orang atau makhluk lain yang memerlukan akan lebih bernilai daripada kepada orang yang kurang atau sama sekali tidak memerlukan bantuan. Hadîts yang diuraikan berikut akan menggambarkan hal ini. Di samping itu, menyedekahkan sebagian besar harta yang berakibat terabaikannya hak-hak prinsipil anak dan istri adalah perbuatan yang tidak bijak, karena kehilangan keseimbangan antara yang wajib dan yang sunnat.

Terkadang sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, kita lupa untuk bersyukur. Padahal, semua yang ada pada diri kita adalah nikmat pemberian Sang Khalik, mulai dari kesehatan, harta, hingga pengetahuan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 122 yang berbunyi, “Ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepadamu.”

Allah tidak pernah meminta manusia untuk membalas seluruh nikmat-Nya dengan harta benda. Dalam firman-Nya, Allah hanya meminta manusia untuk mengingat nikmat yang telah Ia berikan. Nah, berbuat baik kepada sesama adalah salah satu cara mengingat nikmat pemberian Allah SWT. Menolong sesama dan tidak menzalimi orang lain merupakan tindakan sederhana yang membantu kita untuk tidak mengingkari nikmat dari Allah SWT serta menjadi cerminan kebaikan yang datang dari Allah SWT. 
   

Komentar